Archive for October 2014

Ziplocked Jelly Beans

Wednesday, October 15, 2014 Comments Off

He was a lot of things.

All at once.



He was the kitten-like creature that rolled out of his bed at eleven a.m. in a sleepy rainy Sunday. He was the hoarder in the Summer, refused to discard anything besides trash, refused to wear any other attire beside his plain shirts that only come in two colours: washed and from-yesteryear.

He was the kind of person that would forget all of his promises of spending time with his friends––including, but not limited to, lunches, dinners, workout sessions, museum-hopping, Sunday cookouts––for his job even though he never forgot birthdays.

Even though he always proclaimed that he was a tech-savvy (his words, not mine), but he kept on forgetting to change the lightbulb in his closet, claiming that changing lightbulbs were not what he did for work and straight up defended that being a tech-savvy was not equal as being handy with lightings.

He tried the hipster beanie (only once), rocking it failingly for a day and then he gave up––trying on the bowler hat the next day, effectively stretching two of my favourite hats.

Drunk himself crazy with my two bottles of strong red wine in one sitting; claiming that he was not drunk, he was, as a matter of fact, totally mad at me for not introducing him to my twin sister that he just met.

Self-taught himself the name of the flowers in this continent alone just to impress his little friends that often came to work, the week after, he studied loudly how to sound like owls.

He downloaded The Sims just to create characters and dress them up similarly to what his colleagues normally dressed, even though he usually degraded them by not letting them to get jobs or even live in a house.

Had himself an idea that he would stash jelly beans (ziplocked and colour-coded) on his jacket pockets as an ice-breaker––he remembered that he had them two years later, they were not beans anymore.

Took me driving to countrysides just to taste how the ice cream was like there––they were the same and he was bummed.

He made me so angry, that I did not talk to him for the whole week, this occurred three times per year minimum.

He taught me about feminism and the best cafe to buy sourdough bread all in one breath.



He was too much to handle sometimes.

A lot of things. All the time.

But he was not mine.

Aku Terdiam

Friday, October 10, 2014 Comments Off

"Biarin yang kebates sama lautan dan kedaulatan, tetap di sana."

Pada waktu itu, aku sebenarnya tengah berbicara mengenai sesuatu mengenai kejadian politik internal di salah satu negara yang di belahan dunia lain. Namun, temenku, Bimo, tiba-tiba nyeletuk. Bukan hal aneh bagi dia untuk dapat menciptakan kalimat-kalimat puitis yang sudah dia praktekan kepada beberapa temen perempuannya––yang kebanyakannya ketemu dari beberapa grup pertemenanku––sebagai kata pemanis untuk menjadikan mereka sebagai salah satu "teman di kala malam" yang kerap kali tidak berujung baik, namun kalimat yang baru saja ia lontarkan kepadaku hampir membuatku tersedak.

Aku tidak tersedak, tetapi aku hampir memuncratkan air putih yang baru saja kuteguk.

Dia tertawa, senyumnya tipis. "Lo ngerti tapi, kan? Apapun yang kebates sama lautan dan kedaulatan, seharusnya gak perlu lo pikirin kalo gak nyambung sama apa yang terjadi sama lo sekarang. Kecuali emang lo dibayar untuk itu. Which I highly doubt karena lo masih di sini sekarang bareng gue buat nungguin kelas kita selanjutnya."

Aku tetap terdiam. Nasi uduk beserta lauknya yang kuidam-idamkan sejak kelas pagi Pak Ben kubiarkan mendingin di depanku, menjadi gumpalan yang tidak menarik bahkan seolah memualkan. Bukan salah Bu Eka, makanannya selalu nikmat dan seringkali harganya diturunkan dikarenakan aku sudah menjadi langganan warung kecilnya, namun makanan tersebut langsung terlihat asing bagiku. Aku mendadak ingin memuntahkan semuanya. "Kenapa lo tiba-tiba ngomong gitu sih?"

"Emang lo maunya gue ngomong kayak apa?"

"Gak usah bangkit-bangkit apa yang seharusnya mati deh, Bim." ujarku. Meskipun aku tahu aku agak berbicara kasar kepadanya, namun nadaku datar dan pandanganku tertuju kepada motor yang berjejer di seberang warung Bu Eka.

"Masih gak bisa move on? Kenapa sih? Dia udah punya kehidupannya sendiri sekarang. Gelar pascasarjananya dia juga tinggal ditandatangan sama dosen di sana. Gak mungkin dia pack up and come home cuma karena lo ngerengek. Lo juga udah bisa hidup tanpa dia juga kan. He wasn't yours to begin with," nadanya tinggi, cara berbicaranya pun ketus, tetapi dia tidak mau menatapku. "Lo juga punya kehidupan lo sendiri. Lo bisa survive tanpa dia, gak perlu nungguin instruksi dia kayak apa yang temen-temen lo lakuin kalo mereka abis putus––atau mungkin karena lo gak pernah jadian, lo jadi lebih gampang untuk ngelepas dia. Terus mau lo kayak gimana? Gue gak bisa ngungkit sedikit aja tentang kedaulatan dan tetekbengek lainnya yang terkait tentang international affairs cuma karena dia lagi ngambil subject itu di sana? Apa gue gak boleh bicara pake bahasa Inggris juga karena dia sekarang lagi ngegunain bahasa itu di Amerika?"

"Kenapa lo malah marah-marah sama gue, Bim? Gue tadi cuma ngebahas tentang politik, kenapa malah harus ngungkit-ngungkit lagi sesuatu yang bikin gue gila dan nyesel?" aku mengamuk dan menangis pada saat yang bersamaan.

Dingin menyelimuti tubuhku, entah kedinginan apa ini yang aku rasakan sekarang, tetapi aku tidak pernah merasakan apapun seperti ini.

"Gue pengen lo buruan lupain dia. Putra udah nggak tinggal di Indonesia lagi! Dia bahkan udah siap-siap jadi wakil Indonesia buat Amerika. Lisa bakal dinikahin sama dia setelah dia dapet gelarnya. Kapan lo bakal nyadar itu semua?"

Aku menangis kejer. Air mata turun berlimpah lebih mudah daripada semua kata-kata yang sudah aku siapkan untuk kulontarkan ketika ada seseorang yang menyuruhku untuk melupakan Putra. Mataku sudah mulai terasa sembap, bibirku sudah mulai bengkak dikarenakan aku menggigitnya untuk menjaga agar aku tidak teriak. Rasa dingin yang kuderita di kulitku perlahan-lahan menyelinap ke perutku dan dadaku. Diikuti dengan rasa kekosongan yang besar––rasa kehilangan arah yang ekstrem. Apakah ini semua cuma aku yang mengalaminya? Aku yakin semua orang yang pernah merasakan kesakitan ketika ditinggali seslalu dapat merasakan hal ini, bukan? Rasa seperti seseorang mengambil jantungmu kemudian menggantikannya dengan kedinginan yang menusuk tulang dan kehampaan yang mengambil alih pikiranmu. Aku merasa kehilangan seseorang penting dari kehidupanku,  terlepas dari fakta bahwa aku menyadari aku telah mencintainya selama ini. Terlepas dari fakta bahwa ia dulunya adalah lelaki yang kujadikan support system.

Bimo menghela nafasnya. "Apa mungkin ini cuma misguided love yang lo rasain? Gak mungkin ini semua tuh cinta yang romantis. Mungkin lo cuma kehilangan panduan hidup tapi bukan hati lo. Bukan kehilangan sesuatu yang ngegerakin lo buat hidup. Bukan akal pikiran lo."

Apa yang Bimo katakan ada benarnya. Mungkin. Aku tidak tahu. Semua ini terlalu cepat dan terlalu banyak untuk aku cerna secara cepat. Sakit hatiku masih baru.

"Lihat baik-baik, Ella." ketika ia akhirnya menyebut namaku, aku mendongak. Menatap matanya yang terlalu sayu untuk ukuran mukanya yang terbilang lembut, meskipun antitesis yang kuat bagi badannya yang besar dan tinggi. Dia bagai paradoks berjalan. Terkadang auranya yang memperlihatkan bahwa ia adalah lelaki yang pendiam, padahal dia sebenarnya salah satu lelaki termanja yang pernah kukenal––sebenarnya dia adalah teman termanja yang aku punya. Mungkin bukan manja yang diartikan sebagai lelaki yang tidak mau melakukan apapun sendiri, namun manja yang memperlihatkan bahwa dia membutuhkan perhatian lebih dari orang lain. Khususnya aku. "Kapan lo bisa lihat kalo gue yang selama ini sayang sama lo. Kalo gue yang selama ini ada buat lo."



Aku terdiam, sudah tak lagi menangis.

Kemudian aku tertawa.

Dan menciumnya di hidung.

3/10/2014

Thursday, October 9, 2014 Comments Off


(16:33)
It is at time like this I feel so melancholy for the times I will experience. For the time that I will lose. For the time that I will leave behind. For the feelings that I will feel in the future, for the emptiness that I will feel for thinking about this exact time, this wholeness that I feel from being loved by my environment so much, for this moment that I will lose, for these friends that I will leave behind.

At the afternoon. This heavy limbo between sleepy day and glamorous night.

At the afternoon. When the golden ray of sunshine hit the right spots, turning some of the objects into ethereal-like entities. These glittering delightful items, spotlighted for mere moments––the true epitome of the term 'from the rags to riches.'



(16:47)
I know I will never have this again. That this silence between my future and my past would surely swiftly turn into invisible ashes. It feels so completely empty. Like these irreplaceable moments would soon become just one of the nameless days in my life that I would only look back once or twice––if ever––in the future. That I would soon not become this person anymore. My friends would not be the same anymore. I would leave this place that I have grown to love. I would soon forget the feeling of contentment that I found in this bleak small city life.

Perhaps one day in the future, when I would be found huddling under a heavy yellow cloak that would bear the same resemblance as that year's most sought after design thinking about this exact circumstance. I would find myself, while warming up with the coat and a cup of hot gunpowder green tea, it was only the circumstance that helped me grow my fondness of this bleak small city life. Or mayhap the reason was that I have found friends––and enemies––that would turn my previously dull life into more interesting one. Perhaps.



(17:11)
In these rare moments of golden rays that turn my skin into its most exquisite form, I confess that I am afraid of leaving this moment. I am afraid of the unforeseen future that would bring certain things like dull sunlight or cold friends. I am afraid to find something that is as not quite as lovely as this moment right now.

There are immeasurable aspects that I have regarded that make me love everything that this moment have to offer… my full and returned heart is one of them. This heart is unusually filled with the equal amount of hope and melancholy. A wonderfully surprising melancholy for the time that I will lose.
Powered by Blogger.
CURRENTLY
©